Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 April 2012

Lippo Bangun Rumah Sakit untuk menengah ke bawah


EKSPANSI LIPPO

Lippo bangun rumah sakit untuk menengah ke bawah


0 Komentar
Telah dibaca sebanyak 925 kali
Lippo bangun rumah sakit untuk menengah ke bawah
TANGERANG. Lippo Group melalui anak usahanya, Siloam Hospital Lippo Village (SHLV), berencana membangun rumah sakit umum (RSU) untuk kalangan warga tidak mampu. Rumah sakit dengan nama RSU Siloam itu diharapkan bisa beroperasi awal Februari 2012 nanti.
Dr dr Andry, chief executive office (CEO) Siloam Hospitals Lippo Village, mengungkapkan, pembangunan RSU Siloam merupakan bentuk dari kepedulian sosial perusahaan terhadap kesehatan warga Tangerang. “Kami akan integrasikan layanan asuransi kesehatan masyarakat menengah ke bawah dengan pembangunan RSU ini,” kata Andry, Jumat (20/1).
RSU Siloam mulai dibangun sejak 2010 lalu, sekarang sudah memasuki tahap penyelesaian. Sayangnya, Andry enggan merinci besaran investasi untuk membangun rumah sakit yang memiliki 300 tempat tidur pasien itu.
Dalam hal layanan, RSU Siloam tersebut diperuntukkan bagi pasien kelas III B ke bawah. Ia bilang, ingin menghilangkan pandangan umum, bahwa rumah sakit SHLV hanya melayani pasien kelas menengah atas saja.
Lippo Group menargetkan, dalam lima tahun memiliki 25 unit rumah sakit dari enam unit yang sudah berdiri. Dari lini bisnis rumah sakit ini juga, Lippo menargetkan bisa menghasilkan pendapatan US$ 500 juta per tahun.Sumber 

Bio Farma Membangun Pabrik Vaksin baru


RENCANA KORPORASI

Bio Farma membangun pabrik vaksin baru


0 Komentar
Telah dibaca sebanyak 231 kali
Bio Farma membangun pabrik vaksin baru
JAKARTA. Untuk menggenjot produksi vaksin, tahun ini PT Bio Farma (Persero) menganggarkan belanja modal ataucapital expenditure (capex) sebesar Rp 350 miliar hingga Rp 400 miliar.
Nurlaela, Manajer Humas Bio Farma mengatakan, anggaran belanja modal tahun ini akan disesuaikan dengan kas internal. "Capex disesuaikan dengan kas operasional yang didapat perseroan," ujar Nurlaela kepada KONTAN, Senin (16/1).
Sebagian dari capex akan digunakan membangun pabrik vaksin baru bekerjasama dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Pabrik senilai Rp 600 miliar ini akan dibangun di atas lahan seluas 200 hektare (ha) di lahan milik PTPN VIII, yakni di Ciwalini, Kabupaten Bandung Barat.
Bio Farma akan membangun pabrik tersebut tahun ini dan diharapkan akan selesai pada tahun 2017 nanti. "Sebagian besar dana dialokasikan untuk membeli lahan dan menata lokasi," lanjut Nurlaela. Saat ini Bio Farma masih meriset vaksin baru yang akan diproduksi di pabrik baru tersebut.
Selanjutnya, Bio Farma juga akan menggunakan capex untuk meremajakan mesin dan meningkatkan kapasitas produksi. Nurlaela memandang, pasar vaksin di Indonesia yang berpenduduk 240 juta jiwa masih prospektif.
Di samping Indonesia, pemain besar vaksin di Asia masih dikuasai oleh India. Sebab, baru kedua negara inilah yang mengantongi sertifikasi vaksin dari World Health Organization (WHO).
Nah, agar dapat mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar vaksin, Bio Farma perlu meningkatkan kapasitas produksinya. Sayang, kapasitas produksi pabrik yang ada saat ini di Bandung tidak memungkinkan untuk ditambah. Karena itu, Bio Farma menempuh jalur membangun pabrik baru.
Saat ini Bio Farma hanya memiliki satu pabrik yang berlokasi di Bandung dengan produksi sekitar 1,7 miliar dosis per tahun. Kapasitas produksi ini menjadikan Bio Farma menguasai pangsa pasar 0,06% dari 225 produsen vaksin di dunia. "Kami juga pemain utama vaksin campak dan polio," lanjut Nurlaela.
Pabrik seluas 9 ha ini merupakan pabrik vaksin terbesar di Asia Tenggara. Di samping pabrik tersebut, Bio Farma juga memiliki pabrik penunjang untuk penelitian hewan besar seperti kuda, yang berlokasi di Cisarua, Bogor.
Tolak Brunei
Tahun lalu, pendapatan Bio Farma mencapai Rp 1,3 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 304 miliar. Dari jumlah tersebut, vaksin polio berkontribusi 50%. "Sebanyak 70% dari produk Bio Farma diekspor ke 117 negara," papar Nurlaela.
Tahun ini, Bio Farma menargetkan produksi vaksin bisa mencapai 1,8 miliar-2 miliar dosis, atau meningkat 5,8%-17,6%. Dengan begitu, pendapatan diharapkan mencapai Rp 1,5 triliun, atau naik 15,3%, dengan laba bersih Rp 366 miliar atau naik 20,3%.
Dalam kesempatan yang sama, Nurlaela juga memastikan bahwa perusahaan tidak berminat atas tawaran Kesultanan Brunei Darussalam yang mau membeli Bio Farma. "Banyak asing yang menawarkan kerjasama tapi penawaran itu tidak kami tindak lanjuti, Bio Farma tetap milik Indonesia," ujar Nurlaela. Sumber

Tambah Pasokan Susu, Ultra Jaya Gandeng Wellar dari Australia


INDUSTRI SUSU

Tambah pasokan susu, Ultra Jaya gandeng Wellard dari Australia


0 Komentar
Telah dibaca sebanyak 296 kali
Tambah pasokan susu, Ultra Jaya gandeng Wellard dari Australia
JAKARTA. Bisnis susu tak ada habisnya, mengingat impor susu masih tinggi hingga 75% dari total kebutuhan nasional. Peluang ini pula yang ditangkap PT Ultrajaya untuk meningkatkan produksi susu dengan menggandeng Wellard, perusahaan peternakan sapi perah dari Australia.
Eddi Kurniadi, Sekretaris Perusahaan Ultrajaya menjelaskan, sejak 2011 lalu, pihaknya telah mengimpor 2.000 ekor sapi perah dari Wellard. Ultrajaya tak ragu menggelontorkan dana hingga US$ 3 juta untuk mengimpor sapi perah dari Australia itu. "Kami ternakkan sapi impor itu, dan kini sudah 3.000 ekor," katanya, Senin (15/1).
Eddi bilang, usaha peternakan sapi perah dilakukan anak usaha Ultrajaya yakni PT Ultrajaya Peternakan Bandung Selatan. Saat ini, produksi susu sapi dari peternakan itu telah menghasilkan 200 ton susu murni per hari.
Data Asosiasi Industri Pengolahan Susu Nasional menyebutkan, produksi susu segar nasional tahun 2012 diproyeksi hanya 25% dari total kebutuhan susu yang mencapai 3,5 juta ton. Alhasil impor susu sekitar 2,6 juta ton atau 75% dari kebutuhan nasional. Tingkat konsumsi susu Indonesia secara nasional juga masih rendah hanya 11 liter per kapita per tahun. Tentu saja nilai ini jauh di bawah Malaysia, Singapura, dan Thailand yang sudah di atas 20 liter per kapita per tahun.
Dus untuk meningkatkan produksi susu olahan, Ultrajaya berencana membeli mesin robotik tahun ini. Mesin robotik pengolah susu ini dapat mengurangi pekerjaan di industri pengolahan susu yang kini masih bersifat manual.
Manager Accounting Ultrajaya, Yudhi S. Handoyo menambahkan, anggaran pembelian mesin robotik tersebut berasal dari belanja modal tahun lalu. "Biaya untuk pembelian mesin robotik itu sebesar Rp 100 miliar," tandas Yudhi.
Ia menjelaskan, dengan impor sapi perah dan penggunaan mesin robotik diharapkan kapasitas produksi susu olahan Ultrajaya akan meningkat sebesar 20%.
Dengan begitu, pendapatan yang bakal dikempit Ultrajaya juga bisa tumbuh 15% - 20% dari realisasi pendapatan tahun ini yang mencapai Rp 2,1 triliun. "Kami yakin target pendapatan tahun ini tercapai lantaran kami menguasai 60% pasar," kata Yudhi. Sumber