Selasa, 30 April 2013

Ranking Nepotisme Demokrat: Cikeas Pertama, Sukawi Kedua

Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, SBY, Saat Berpidato di Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PD, 23-24 Juli 2011. Foto/ist.
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, SBY, Saat Berpidato di Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PD, 23-24 Juli 2011. Foto/ist.

Selasa, 30 April 2013 | 10:56:08
Jakarta, PenaOne – Partai Demokrat (PD) menjelma sebagai CV atau perusahaan politik keluarga. Setelah ‘Bani Cikeas’ yang paling banyak menempatkan kroni-kroninya sebagai daftar caleg sementara (DCS), ada keluarga Sukawi Sutarip, Ketua DPD PD Jateng menyusul di peringkat kedua.

Demikian disampaikan eks Sekretaris Departemen Agama DPP PD, Ma’mun Murod Al Barbasy melalui pesan singkatnya kepada PenaOne, Selasa (30/4/2013).

“Dinasti Politik Partai Demokrat Jateng menunjukkan nepotisme Sukawi Sutarip. Sukawi Sutarip Ketua DPD PD Jateng menempati ranking kedua praktek nepotisme setelah Keluarga ‘Bani Cikeas’,” ujar Ma’mun.

Berikut jajaran keluarga besar mantan politisi PDIP Sukawi yang masuk dalam DCS PD: Sukawi Sutarip caleg DPR RI dapil jateng 9 nomor urut 1. Sinto Sukawi (Istri sukawi) caleg DPR dapil Jateng 2 nomor urut 2. Tulis sutarif (adik kandung Sukawi) caleg DPR dapil jateng 9 nomor urut 1.

Kemudian ada Sri Ratnawati (istri Tulis sutarip) caleg DPR dapil jateng 9 nomor urut 9. Ina Sukawati (anak pertama Sukawi) caleg DPRD provinsi dapil jateng 3 nomor urut 1. Jhomy (suami Ina) caleg DPRD kabupaten Pati dapil 1 nomor urut 1.

AS Sukawi Wijaya (yoyok, anak kedua Sukawi) caleg DPRD Provinsi dapil jateng 1 nomor urut 1. Suswati (Istri Yoyok) caleg DPRD kota semarang dapil 2 nomor urut 1. Suharli (kakak kandung Sukawi) caleg DPRD provinsi dapil Jateng 2 nomor urut 2.

“Luar biasa bukan? Partai politik telah benar-benar menjadi semacam CV, “perusahaan politik keluarga”,” tandas Ma’mun yang juga dosen Ilmu Politik Universitas Nasional dan Universitas Muhammadiyah Jakarta. (ami)

Penulis: Nurfahmi Budi Prasetyo

Sumber: Ranking Nepotisme Demokrat: Cikeas Pertama, Sukawi Kedua

Kisah Anas-SBY bak Musa-Fir'aun


Ilustrasi Perseteruan Anas-SBY. Foto/Nevertalk-Kaskus.
Ilustrasi Perseteruan Anas-SBY. Foto/Nevertalk-Kaskus

Jakarta, PenaOne – Bekas Sekretaris Departemen Agama DPP Partai Demokrat (PD) Ma’mun Murod Albarbasy mengaitkan kisah perseteruan Anas dengan SBY bak Musa dengan Raja Fir’aun. Menurutnya, dalam status Facebook, kisah Nabi Musa mirip dengan Anas dalam perspektif politik.

“Antara Anas dan Nabi Musa AS: ini sekadar status. Jangan ditafsir terlalu jauh. Jangan juga ada yang komen: Masa Musa dibanding dg Anas. Musa jelas Rasul dan Nabi, sementara Anas “orang hina” yg secara hukum telah jadi tersangka.Saya hanya lihat ada kemiripan dalam perspektif politik,” tulis Ma’mun kader Muhammadiyah asli Brebes ini dalam akun FB-nya, Senin (22/4/2013).

Ia menambahkan, Musa “anak pungut” yang dihanyutkan di sungai oleh orang tuanya karena situasi yang mengharuskan. Anak yang kehadiranya di Istana sama sekali tidak diharapkan Fir’aun. Anas juga hanya “anak yang dipungut” untuk bantu besarkan Demokrat, yang tentu tidak sama dengan “anak kandung”. Anas sangat tau diri.

“Fir’aun sadar betul bahwa Musa bisa bahayakan kuasanya. Sejak Musa kecil Fir’aun sudah rasakan. Disuruh pilih roti dan api, Musa “pura2″ (tentu dg ijin Allah) pilih api (akibatnya bicaranya agak cadel), besar dikit ketika digendong, Musa kerap “iseng” narik2 jenggot Fir’aun,” lanjut Ma’mun.

Menginjak remaja, Musa mulai lakukan perlawanan dan mulai menohok ke jantung kuasa Fir’aun. Merasa tidak bisa lagi diajak “baikan” Musa pun diusir dari Istana hingga terjadi pengejaran terhadap pasukan Musa. Musa terpepet dan terjebak di Sungai Nil.

Dengan ijin Allah, sambung Ma’mun, tongkat Musa dicambukkan ke bumi berubah jadi jembatan. Musa pun selamat, sementara Fir’aun dan pasukannya tenggelam. Musa berhasil menang secara politik.
“Sebagai “anak yg dipungut”, Anas alami nasib hampir serupa dengan Musa. Mau nyalonin Ketum dicegah-cegah, diminta mundur, dijanjiin jabatan Sekjen asal mundur.Namun takdir Allah, Anas pun terpilih jadi ketum,” urainya.

Sebagai “anak yg dipungut”, meski sudah terpilih jadi ketum tetap saja ada ketakrelaan dari Beliau. Upaya singkirkan Anas terus berlangsung. Seperti halnya Musa, Anas tetap coba berlaku santun dan loyal pada Beliau.Namun ketika kesantunan dan loyalitasnya tetap tak dianggap, Anas mulai sedikit menyentil Beliau.

“Salah satu yang membedakan Anas dengan Musa, Musa berhasil tenggelamkan Fir’aun, sebaliknya Anas gagal tenggelamkan dan justru -untuk sementara waktu- “ditenggelamkan”. Sekali lagi ini hanya sekadar status,” tutup Ma’mun yang juga pernah menjadi Ketua DPP Partai Matahari Bangsa. (ami).

Penulis: Nurfahmi Budi Prasetyo 

Ma’mun Murod: Anas 2 Bulan Keluyuran Luar Biasa, KPK Ngapain?

Bekas Pengurus Harian DPP Partai Demokrat, Ma'mun Murod Al-Barbasy yang Dipecat dan Dicoret dari Pencalegan DPR Karena Dianggap Loyalis Eks Ketum Demokrat, Anas Urbaningrum. Foto/ist.
Ma'mun Murod Al Barbasy, Bekas Sekretaris Departemen Agama DPP PD
Rabu, 24 April 2013 | 08:14:06

Jakarta, PenaOne – Bekas Pengurus Harian Partai Demokrat yang baru saja ‘ditendang’ dari kepengurusan baru hasil Kongres Luar Biasa, Ma’mun Murod Al-Barbasy, ‘menampar’ keras Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam status facebooknya. Ia menyindir ketidakseriusan KPK dalam mengusut kasus Hambalang yang mana salah satu tersangkanya adalah Anas Urbaningrum, bekas Ketua Umum Partai Demokrat.

“KPK, Segera tangkap dan adili Anas Urbaningrum! Kenapa kau biarkan Anas Kluyuran Luar Biasa (KLB) terus menerus kemana2? Tidakkah cukup waktu 2 bulan untuk kumpulkan bukti2 keterlibatan Anas di Hambalang? Anas sudah 2 bulan lebih lho menikmati udara bebas. Segera tangkap dan adili Anas!” sindir Ma’mun, Selasa Malam (23/4/2013).

Dosen Ilmu Politik Universitas Nasional dan Universitas Muhammadiyah Jakarta ini menilai KPK seakan menggantung nasib orang dengan mencap seseorang sebagai tersangka. Dan parahnya sudah dua bulan sejak Anas ditetapkan sebagai tersangka, tapi belum juga bisa dibuktikan atau pun dibawa ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

“Saya membela Anas tentu saya punya segudang alasan. Termasuk alasan teologis dan menurut saya proporsional saja. Saya juga yang termasuk meminta Anas agar segera dipenjarakan, tujuannya untuk ngetest kinerja KPK. Sudah hampir 2 bulan Anas tersangka lho, tapi belum diapa-apakan juga oleh KPK. Yang bikin “tertawa”-bukan sedih-justru banyak saudara Nazaruddin yang jadi Caleg Partai Demokrat. Ada apa?,” cetusnya sambil terkekeh-kekeh saat dihubungi PenaOne.com, Rabu (24/4/2013). (ami)

Penulis: Nurfahmi Budi Prasetyo

Sumber:  Anas Keluyuran Luar Biasa (KLB), KPK Ngapain Aja?

Jumat, 22 Maret 2013

Ganti GBU dengan ABU, Maksudnya?

foto: pmiidkw-ump.blogspot.com


Di jagat twitter, saya membaca kicauan absurd. Seorang sosialita yang difollow sembilan puluh delapan ribu tujuh ratus delapan puluh delapan mengiyakan permintaan followersnya. Sang followers protes ketika sosialita yang juga pengusaha itu mengucapkan: GBU. 


Ya, GBU alias God Bless U. Follower adalah WNI yang tinggal di Kanada. Sepertinya ia skriptualis akut. Pemuja teks Arab. Ia meminta sang sosialita berinisial FI untuk mengganti GBU dengan ABU: Allah Bless U.

"Uni sahabatku, jgn pake GBU karena itu ucapan orang Kristen. ABU saja, lebih islami. Allah Bless U," kicau sang follower FI. 

"Noted! biasanya sy gunakan salam GBU kpd teman2 yg non muslim..Tapi akan sy ganti mjd ABU :) Terima Kasih Banyak ya!" balas FI cucu Ketua MUI era Orde Baru menimpali followernya.

Saya yang juga follower sang sosialita pun gemas membaca percakapan mereka di timeline. Saya mention mereka berdua: "Terus di Quran terjemahan Bahasa Inggris, Allah ditulis apa klo bkn God? Sdh lah jgn terjebak pd teks/semantik!"

Tidak ada respon. Tidak pula diretweet FI yang dulu saya kagumi karena berani menginterupsi aksi kekerasan Habib Riziek dengan FPI nya dan menyambangi markas FPI untuk berdialog.

Saya juga sering berdiskusi dengan kawan-kawan lembaga dakwah kampus. Saya bilang, Tuhannya Orang Nasrani, Yahudi, Islam itu sama: Allah! Muslim menyebutnya Allah, Nasrani pun sama. Ada pun istilah Bapa, Roh Kudus, Putra Allah adalah Trinitas yang merupakan satu kesatuan (Monotheis). Yahudi pun demikian. Dalam Bahasa Ibrani mereka menyebut Yahweh, yang dalam tafsiran mereka itu juga Allah. Hanya karena lidah mereka bisa menyebutnya begitu-bukan Allah-terus kita mau bilang mereka Kafir?

Sang aktivis lembaga dakwah kampus pun langsung memvonis saya: Antum JIL! Sudah, cukup tidak usah diskusi! Tegas si akhi celana ngatung pergi luntang lantung tanpa mengucapkan salam.

Bagi pembaca yang juga memvonis saya antek JIL, monggo baca dulu Buku Sejarah Tuhan Karen Amstrong. Jangan karena ia non Muslim, anda alergi juga. Karena namanya asing, bukan Made in Arab terus Anda menjudge mereka kafir. 

Ingatlah, kita satu nenek moyang: Adam. Satu agama langit. Agama Abraham. Samawi. Semuanya samimawon. Memang Islam penyempurna semuanya. Rasulullah Muhammad SAW penutup Nabi akhir zaman. Tapi coba tanya Allah di sepertiga malam: Kenapa tidak Kau ciptakan semua manusia beragama Islam, Ya Allah?

Kalau Allah mau, biar semua masuk Surga, karena keyakinan Anda semua yang berhak masuk surga hanya orang Islam, kenapa saudara kita dilahirkan sebagai Non Islam? Kalau begitu dimana letak keadilan Allah?  Dus, kesimpulannya: Satu Tuhan banyak agama. Wallahu'alam.

Rabu, 23 Januari 2013

Surat Kaleng untuk Polantasnya Partai NasDem


Teriring salam dan doa semoga Kakanda Ferry Mursyidan Baldan senantiasa dilindungi Allah SWT. Dan tidak ikut-ikutan galau selepas keputusan keluarnya Hary Tanoe. Amiin YRA.

Tudepoin aja. Sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP Partai NasDem, Kakanda Ferry Mursyidan Baldan adalah PAO sekaligus PA'nya NasDem. Lalu lintas etika dan norma berorganisasi jadi kewenangan abang. Kalau mau disebut partai yang menjunjung nilai demokrasi, seharusnya abang orang pertama yang menyemprit jika aturan tersebut menciderai demokrasi itu sendiri. Kita orang di luar NasDem bertanya2 dengan AD/ART Partai NasDem yang terkesan Top Down. Keputusan tertinggi apa kata Majelis Nasional.

Misalnya, dalam penetapan ketua umum tidak akan dibahas secara terbuka dalam kongres. Kongres hanya akan mengukuhkan, sedangkan penetapan akan dilakukan dalam rapat terbatas di Majelis Nasional NasDem. Nah, abang sebagai 'Polisi Lalu Lintasnya' Organisasi Partai NasDem, mohon berkenan menjawab kegalauan saya sebagai anak zaman yang besar di rezim Reformasi, dimana euforia demokrasi masih anget2 t*ik ayam (maaf kasar). :D

Kalau jawaban abang memuaskan, saya sepertinya tertarik ber-NasDem kelak kalau sudah pensiun jadi anggota HMI. Ciyus! Hehe... :JabatTanganErat.

Ilustrasi: kabarcepat.com

Kamis, 10 Januari 2013

Wahabi Salafi

Pondok Pesantren Terbaik Al-Khoirot: Nama Tokoh Ulama Wahabi Salafi: Daftar nama ulama Wahabi Salafi, kitab buku dan situs/blog-nya. Secara umum, tokoh utama ulama Wahabi/Salafi adalah ulama yang berdomisili...

Selasa, 08 Januari 2013

WOW! Teller Bank Bening lagi Karaokean


Sumber

Iqlima Huraida (23), Teller Bank BUMN di Jakarta lagi karaokean nyanyi lagu Jepang (Kiroro-Mirai)
Sumpah, Bening banget, gan! 



Kamis, 13 Desember 2012

Bangsa Pemaaf


Bangsa ini memang benar2 pemaaf. Ariel dgn skandalnya, tak bth wktu lama u/ dilupakan dan skrg tenar lg. 
 
Karikatur inilah.com - Nikah 4 hari ala Bupati Garut Aceng Fikri
 
Aceng 4 hr 'mengontrak' dan melecehkan moral Fany, keesokannya langsung damai. 
 
Karikatur inilah.com - Menpora Andi Mallarangeng yang baru mengundurkan diri karena ditetapkan sebagai tersangka (7/12) karena kasus Korupsi Proyek Hambalang
Dan sekarang AAM, ditetapkan tersangka, semua pada apresiasi dan sesaat melupakan dampak korupsi/penyalahgunaan kewenangan: AMBLES-nya Hambalang (Rp 2,5 triliun lho). Salut dengan Bangsa ini!
Like ·

Sumpah! Pemuda Penolong Penyeberang Jalan kok disumpahin?

1351436495320774808
Pemuda penolong penyeberang jalan depan Stasiun Tanjung Barat Jakarta Selatan - Foto: Nurfahmi Budi Prasetyo

Sambil memegang rokok, tangan kirinya mengacung tinggi untuk menyetop laju kendaraan yang rata-rata berkecepatan diatas 60 km/jam. Pria itu bernama Maulana Irham. Jangan mengira dia adalah saudara Nazriel Irham alias Ariel Noah karena memang hanya mirip nama belakang saja.

Pemuda 30 tahun itu berasal dari Depok Baru. Sehari-hari sekitar sore hingga malam–jam pulang kantor, Maulana membantu orang menyeberang jalan di Stasiun Tanjung Barat. Tangan kanannya patah sejak usia 10 tahun karena jatuh dari kereta. saat itu ia ditolong seorang tentara. Berkali-kali diobatin, lukanya tak kunjung sembuh hingga sekarang usianya menginjak kepala tiga.

Makian pengendara mobil sering didapatkannya karena Maulana selalu mendadak memberhentikan laju kendaraan yang sangat kencang. “Woiyy! Jangan mendadak, mati kau nanti!” teriak seorang pengendara sedan dengan logat Batak kepada Maulana saat disetop tiba-tiba olehnya.

Maulana tetap santai, ia hanya ngedumel pelan, “Biarin dah gue orang miskin dimarahin mulu sama orang kaya. Yang penting gue bisa nolong orang,” gerundelnya.

Saya yang beberapa kali memerhatikan aksi heroik bin konyol ini penasaran dan menghampiri dirinya. Sedikit-dikit saya mengorek latar belakang kehidupannya dengan memberikan uang rokok sebagai salam kenal saya dengannya.

Maulana mengaku pernah bercita-cita menjadi polisi dari kecil. Namun hidup dengan ekonomi pas-pasan, membuat ia hanya bisa bersekolah sampai SD. Penggemar Klub Bola FC Barcelona ini memang nekat membantu menyeberangkan jalan para pejalan kaki yang berasal dari Stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan dengan alasan kasihan melihat mereka yang selalu menunggu lama ketika ingin menyeberang. Itu semua akibat arogansi pengendara di jalan raya yang merasa jalan di depan stasiun itu adalah arena balap sirkuit F1.

1351436206767450239
Pasalnya, sudah jelas dipasang rambu untuk berjalan pelan karena ada penyeberang jalan, bikers dan supir pun tetap tidak menghiraukannya. 

Memang tidak sepenuhnya salah mereka para pengendara kendaaraan bermotor, karena jalanan itu sangat lebar dengan trak lurus. 

Dan bukan salah penyeberang jalan juga serta si Maulana yang selalu ‘gerah’ melihat arogansi pengendara mobil maupun motor yang kerapkali tidak mau berjalan pelan untuk mengizinkan penyeberang jalan menyeberang. Terus kalau sudah begini, siapa yang salah? Apa salah PT KAI yang tidak membangun jembatan penyeberang jalan? Atau tanggung jawab Pemprov DKI yang katanya ingin membangun jembatan penyeberangan Okober ini, buktinya masih molor juga sampai akhir bulan ini.

Seperti diberitakan beritajakarta.com, selain di Tanjung Barat, menurut Mardanus, Kepala Seksi Rekayasa Lalu Lintas Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, rencananya tahun depan juga akan dibangun Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di daerah Stasiun Lenteng Agung. Pembangunan jembatan di wilayah itu merupakan respon atas aspirasi warga yang ingin terjamin keselamatannya. 

“Bukan hanya pejalan kaki yang memintanya, tapi pengendara juga meminta JPO dibuat di situ agar arus lalulintas bisa lebih lancar,” ungkapnya. “Karena selama ini aktivitas penyeberangan dari dan akan ke Stasiun Lenteng Agung, menjadi salah satu penyebab tersendatnya lalulintas,” ujar Mardanus.

Ya, semoga dengan dibangunnya JPO, jalanan sekitar Tanjung Barat, Lenteng Agung bisa mengurangi kemacetan di Jakarta. Seperti diketahui, Stasiun Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu, dan sebagainya merupakan titik kemacetan terparah setiap berangkat maupun pulang kerja. Karena disanalah penyeberang jalan ‘menyemut’ dan sudah ditunggu manis oleh angkot dan Bis Kopaja yang seenaknya saja ngetem di tengah jalan.





Rabu, 07 November 2012

Wow! ada Ular di Motor

ilustrasi-google


Oleh: Nurfahmi Budi Prasetyo (Reportase nemu di jalan)

DEPOK - Pasangan suami-istri pengendara motor Suzuki Thunder tiba-tiba dikagetkan dengan seekor ular yang meliuk-liuk di tangki motornya. Musim hujan memang memaksa binatang-binatang liar keluar dari habitatnya. Salahsatunya ular pohon berjenis bronzeback yang tidak jelas juntrungannya tiba-tiba 'nangkring' di bagian mesin bawah tangki motor bertempelkan stiker Orang Indonesia (OI)—penggemar Iwan Fals.

Kaget melihat ular itu menari-nari di sekitar setang yang kemudian lari ke dalam mesin ketika sedang mengendarai. Syahdan, mereka menjauhi motor dalam keadaan mesin menyala dan meminta tolong ke penjual bensin eceran dekat mereka berhenti, tepatnya di seberang Supermarket Giant, Depok Timur. Sejurus kemudian si penjual bensin mencari tongkat untuk menangkap ular yang diduga berasal dari kali depan Perumahan Jatijajar, Depok. 

Ketika ditanya tadi perjalanan dari mana saja, mereka mengaku baru pulang dari rumah saudara dan sempat berhenti di pinggir jembatan depan Perumahan Jatijajar, Jalan Raya Bogor, yang memang di bawahnya terdapat kali yang sedang tinggi airnya seusai hujan deras mengguyur Depok sepanjang sore hingga malam tadi, (7/11).

"Uler dari rumah mungkin, Bang? Kan emang sering ada uler di rumah," celetuk sang istri ke suaminya. Dan sang suami berkilah, ular tersebut dari kali depan Jatijajar. Dan memang tadi motor mereka parkir di pinggiran jembatan saat mereka membeli martabak.

Ada yang menarik ketika proses mengusir ular pohon berukuran tangan anak kecil itu dari tangki motor. Ketika abang pengecer bensin kesulitan menjinakkan sang ular, tiba-tiba datang seorang warga yang penasaran ingin mencoba menangkap. Tanpa berlama-lama, hap! Si ular berhasil dicekek lehernya dengan tangan beralas plastik kresek hitam.

"Ini (ular) gue bawa yah. Lumayan buat nomor togel ntar malem," timpalnya yang tak lama kemudian pria misterius itu langsung menyetop angkot 06 jurusan Terminal Depok dan pergi meninggalkan kerumunan di TKP.

Kamis, 19 Juli 2012

Tradisi Jatah Kue Politik


Bagi-bagi kue kekuasaan-karikatur inilah.com

Anda ingin menjadi Presiden di Indonesia? Eits, bikin coret-coretan dulu buat calon pembantu anda. Sebelum memuaskan mereka yang telah mendukung anda dengan berbagi kue kekuasaan. Nah, ada beberapa tradisi di Indonesia yang sudah menjadi aturan tidak tertulis. Cekibrot gan!

Pertama, kalau anda orang Jawa, pastikan Wapres anda bukan Jawa lagi. Begitu pun sebaliknya. Kalaupun mentok-mentoknya Jawa, yah terpaksa porsi orang Jawa dikurangin untuk jatah Kementerian atau Lembaga tinggi negara. Kedua, kalau anda dari kalangan militer, yah mbokyao tau diri jangan Wapresnya militer juga. Taruhlah seorang ekonom atau sipil.

Ketiga, Pastikan putra-putri terbaik Bangsa ini dari Sabang sampai Merauke menempati pos Kementerian. Kalau mau aman di DPR, kasihlah jatah Menteri buat petinggi-petinggi partai politik pendukung koalisi anda. Lanjut lagi, keempat: Arif dan bijaklah dalam menempatkan posisi Menteri atau Kepala Lembaga Tinggi Negara. Kalau salah orang, bisa jadi ada ketidakpuasan kedepannya, lalu mereka menjadi oposisi yang akan merongrong anda selama anda berkuasa. Maksudnya? Gini lho, kita tahu bersama kalau dari dulu, jatah Menteri Agama itu memang dari kalangan Nahdiyin, yaah harus disadari mereka adalah umat mayoritas di tanah air. Nah, tradisinya buat menghibur Muhammadiyah, biasanya jatah Menteri Pendidikan Nasional itu orang Muhammadiyah.

Kelima, untuk jatah di kalangan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Biasanya Panglima TNI itu dibagi rata, bisa dari Angkatan Laut dulu, terus AU, nah baru menjelang pemilu biasanya itu jatah Angkatan Darat. Dan harus diatur betul jatah antrian angkatannya. Kalau nggak bisa berabe bos! Ente mau dikudeta di tengah jalan. Hehehe....lanjut lagi di next artikel, kalau kepanjangan pan ente juga nyang malay baca. Regards

Senin, 21 Mei 2012

Kemenakertrans Berusaha berikan yang terbaik untuk TKI

Dirjen Binapenta Kemenakertrans Reyna Usman
 
Berkaca dari carut-marut permasalahan TKI, pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal (Dirjen) Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja (Binapenta) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) segera membenahi administrasi, pembayaran, dan perijinan untuk penempatan atau pengiriman TKI agar lebih terintegrasi dalam sistem online.

Kemenakertrans berikhtiar untuk merapikan semuanya dari hulu (di tanah air), agar nantinya di hilir (luar negeri) tidak terjadi problem. Diantaranya upaya pemerintah adalah mengusahakan terjadinya kesepakatan kedua belah pihak, dimana TKI `domestic worker` harus melalui pelatihan 200 jam yang berbasis pada jabatan kerja, yaitu : house keeper (pengurus rumah tangga), cook (tukang masak), baby sitter (pengasuh bayi/ anak) dan caretaker (perawat jompo). Untuk itu, kata Direktur Jenderal (Dirjen) Binapenta  Kemenakertrans, Reyna Usman, pemerintah mempersiapkan sarana dan prasarana pengiriman kembali TKI ke negara itu.

Namun, lanjutnya, saat status moratorium (penutupan sementara) penempatan TKI itu dicabut diharapkan tidak ada lagi pekerja informal (penata laksana rumah tangga) yang dikirim. “Tidak mudah meniadakan penempatan TKI informal dan menggantinya dengan pekerja formal ke Arab Saudi, karena kebutuhan di negara itu untuk penata laksana rumah tangga masih tinggi,” katanya, ketika ditemui di ruang kerjanya, Gedung Kemenakertrans, Jakarta,  Jumat, (27/4/2012).

Reyna menilai nantinya tidak ada lagi pengiriman TKI informal ke Arab Saudi, karena hanya ada yang formal, seperti perawat, babysitter, dan koki yang dapat bekerja ke negara itu. Pencabutan status moratorium itu menggembirakan pelaksana penempatan tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS), tapi jika masih ada dualisme dalam sistem pelayanan maka tetap merugikan TKI dan pelaku usaha.